Selasa, 27 September 2016

Alat Pelindung Diri di Laboratorium

Alat Pelindung Diri di Laboratorium

Alat Pelindung Diri adalah salah satu alat yang harus tersedia di laboratorium. Digunakan untuk perlindungan badan,  mata, pernapasan dan kaki.
Peralatan dan pakaian perlindungan diri adalah suatu penghalang untuk memperkecil resiko paparan terhadap aerosol, percikan dan inokulasi tak sengaja. Pakaian dan peralatan yang dipilih bergantung pada tempat pekerjaan dilakukan. Pakaian pelindung harus dikenakan ketika bekerja di laboratorium. Sebelum meninggalkan laboratorium, pakaian pelindung harus dibuka, dan tangan harus dicuci.


Perlindungan Badan
Jas Laboratorium lebih baik seluruhnya tertutup dengan kancing.  Namun, jas laboratorium dengan lengan panjang, bukaan di belakang akan memberikan perlindungan lebih baik dibanding jas laboratorium yang umum digunakan dan lebih disarankan untuk digunakan pada laboratorium mikrobiologi  untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kabinet Biosafety.
Jas laboratorium dirancang untuk melindungi kulit dan pakaian dari bahan kimia yang mungkin tumpah. Jas  ini harus selalu dipakai dan lebih baik jika panjangnya selutut. Ada beberapa jenis mantel laboratorium yang berbeda untuk jenis perlindungan yang berbeda;
  • Kapas melindungi dari objek inhalasi, tepian yang keras atau tajam dan pada umumnya perlindungan terhadap api
  • Wol melindungi dari percikan bahan yang dicairkan, cuka dalam jumlah kecil, dan nyala api kecil
  • Serat Buatan melindungi dari percikan dan radiasi inframerah atau ultra ungu.
  • Bahan anti statik
Jas laboratorium dari serat buatan dapat meningkatkan beberapa resiko laboratorium. Sebagai contoh, beberapa bahan pelarut bisa menghancurkan beberapa kelas serat buatan tertentu, dengan demikian mengurangi efek perlindungan dari mantel tersebut. Sebagai tambahan, pada kontak dengan nyala api, beberapa serat buatan akan meleleh. Jas  Laboratorium juga dapat   dibuat dengan snaps/fasteners yang membuat pemakai bisa bergerak cepat dalam suatu keadaan darurat.
Celemek merupakan suatu alternatif untuk mantel laboratorium. Pada umumnya dibuat dari plastik atau karet untuk melindungi pemakai terhadap bahan kimia bersifat menghancurkan. Celemek atau apron harus dikenakan di atas jas laboratorium jika diperlukan untuk memberi perlindungan terhadap tumpahan bahan kimia atau bahan biologi seperti darah atau cairan kultur.


Perlindungan Mata 
Pemilihan peralatan untuk melindungi mata dan wajah dari percikan dan dampak dari objek tergantung pada aktivitas yang dilakukan. Perlindungan mata sangat mudah untuk dirasakan karena alat ini berfungsi langsung. Untuk orang-orang yang tidak biasa menggunakan kacamata, sangat tidak nyaman  untuk memakai kacamata, karena bersifat membatasi.
Percikan bahan kimia dan objek terbang mungkin ditemui di setiap waktu di dalam Iingkungan laboratorium. Karena alasan inilah, perlindungan mata sangatlah penting. Penggunaan pelindung mata harus nyaman dipakai, tepat bertengger di mata dan wajah, dan tidak terganggu dengan kegiatan pemakai. Jika diperlukan harus ada tanda di pintu yang menyatakan kewajiban untuk memakai pelindung mata sebelum memasuki ruangan.
Pelindung mata harus dikenakan ketika menggunakan:
  • Benda yang tajam (kaustik), yang bersifat memusnahkan, atau bersifat iritasi
  • Barang pecah belah di ruang hampa atau tekanan yang (ditambah atau dikurangi)
  • Bahan karsinogenik
  • Bahan mudah terbakar
  • Bahan radioaktif
  • Bahan ledak
  • Laser (diperlukan perlindungan lensa khusus) Cahaya UV (diperlukan perlindungan lensa khusus)
  • Biohazards
Pelindung mata juga harus dikenakan ketika melakukan kegiatan : pengelasan, sanding, penggerindaan, pengeboran, penggergajian. Peralatan perlindungan mata harus mudah untuk dibersihkan dan disinfekasi. Pelindung mata harus selalu dijaga dalam kondisi yang baik.
Lensa kontak tidak boleh secara rutin dikenakan di laboratorium. Personil Laboratorium yang harus memakai lensa kontak selagi melakukan kerja di laboratorium harus waspada dengan resiko sebagai berikut :
  1. akan tidak mungkin untuk memindahkan lensa kontak dari mata untuk mengikuti masukan beberapa bahan kimia ke dalam area mata,
  2. Lensa kontak dipasang di mata akan mengganggu prosedur pembilasan,
  3. Lensa kontak bisa menjerat bahan padat di dalam mata. Penggunaan lensa kontak harus dipertimbangkan secara hati-hati, dengan pertimbangan ekstra untuk memilih perlindungan mata yang pas di atas mata dan di sekitar wajah.
Perlindungan Pernapasan
Dikarenakan beberapa prosedur laboratorium tertentu menghasilkan uap beracun dan zat pencemar, diperlukan perlindungan pernapasan di lingkungan pekerjaan. Perlindungan pernapasan digunakan ketika melakukan pekerjaan dengan prosedur beresiko tinggi (misal: pembersihan dari tumpahan bahan terinfeksi). Pemilihan antara masker dan respirator, beserta jenis respirator akan tergantung pada jenis resikonya.
Respirator memiliki saringan yang dapat diganti-ganti sebagai perlindungan terhadap gas, uap, partikulat dan mikroorganisme. Perlu diingat bahwa tidak ada saringan selain dari saringan HEPA yang akan memberi perlindungan terhadap mikroorganisme, sehingga saringan harus disesuaikan benar dengan jenis respirator. Untuk mencapai perlindungan optimal, respirator harus cocok dengan wajah pemakai dan diujikan. Respirator disatukan dengan pemasok udara integral yang menyediakan perlindungan penuh. Dibutuhkan saran dari orang yang berkompeten, misalnya: ahli kesehatan, untuk pemilihan respirator yang benar.


Perlindungan Tangan
Pencemaran tangan bisa terjadi ketika prosedur laboratorium dilakukan. Tangan juga sangat peka terhadap luka akibat “benda tajam”. Sarung tangan latek sekali pakai atau jenis sarung tangan untuk operasi berbahan vinil digunakan secara luas untuk pekerjaan laboratorium, dan untuk menangani cairan badan dan darah serta senyawa terinfeksi. Sarung tangan sekali pakai juga bisa digunakan tetapi perhatian lebih harus diberikan pada proses pencucian, pemindahan, pembersihan dan penyuci hamaan.
Sarung tangan harus segera dipindahkan dan tangan harus segera dicuci setelah penanganan bahan terinfeksi, setelah melakukan pekerjaan didalam kabinet Biosafety dan sebelum meninggalkan laboratorium. Sarung tangan sekali pakai harus langsung dimusnahkan bersama dengan limbah laboratorium terinfeksi.
Reaksi alergi seperti infeksi kulit dan hipersensitivitas harus segera dilaporkan di laboratorium dan pekerja lain yang memakai sarung tangan latek, terutama yang menggunakan tepung. Alternatif lain seperti latek bebas tepung atau sarung tangan vinil dapat digunakan jika terjadi masalah.
Merupakan suatu gagasan baik untuk selalu memakai sarung tangan pelindung di dalam laboratorium. Selain bertindak sebagai suatu pelindung antara tangan dengan bahan yang penuh resiko, beberapa sarung tangan juga dapat menyerap peluh atau melindungi tangan dari panas. Karena sarung tangan jenis tertentu dapat hancur jika bersentuhan dengan bahan pelarut, penting untuk memberi perhatian ekstra antara sarung tangan pelindung dengan sifat alami pekerjaan yang akan dilakukan. Sebelum penggunaan, lakukan pemeriksaan untuk memastikan sarung tangan (terutama sarung tangan lateks) ada dalam kondisi yang baik dan bebas dari lubang, dan kebocoran.
Ketika bekerja dengan bahan yang bersifat menghancurkan, kenakan sarung tangan tebal. Ambil tindakan pencegahan ekstra yaitu pengecekan lubang dan kebocoran. Ketika melepas sarung tangan, berhati-hatilah. Buka sarung tangan, mulai dari pergelangan tangan dan bergerak ke arah jari. Jauhkan permukaan sarung tangan dari kontak dengan tangan selama pelepasan. Sarung tangan yang telah terkontaminasi harus dibuang di kontainer berdisain khusus (misal: kontainer radioaktif atau limbah biohazard). Cuci tangan sesegera mungkin setelah pelepasan sarung tangan pelindung.


Perlindungan Kaki
Perlindungan Kaki dirancang untuk mencegah luka-luka dari bahan kimia bersifat menghancurkan, bahan-bahan berat, goncangan elektrik, seperti misalnya memberi daya tarik pada lantai basah. Jika suatu objek bersifat korosif, berbahan kimia atau objek berat jatuh ke lantai, bagian yang paling rentan pada badan adalah kaki. Karena alasan inilah, sepatu yang dengan sepenuhnya menutup dan melindungi kaki, direkomendasikan.
Sepatu buatan pabrik, seperti sepatu tenis, bersifat menyerap cairan. Jika bahan­kimia tumpah di atas sepatu pabrik, buka alas kaki seketika. Ketika memilih alas kaki untuk laboratorium, pilihlah sepatu kokoh yang menutupi seluruh kaki. Hal ini akan menyediakan perlindungan terbaik.
Sepatu jenis berikut tidak boleh dikenakan di laboratorium:sandal,sandal kayu,sepatu tumit tinggi, sepatu yang terbuka.
Jenis jenis alas kaki yang direkomendasikan adalah :
  • Sepatu keselamatan (steel-toed) melindungi dari luka-luka disebabkan oleh dampak dari objek apapun selama aktivitas kerja (misal: pengangkatan bahan yang berat, menggunakan perkakas bertenaga besar, dll).
  • Sepatu treated, sepatu boot karet atau tutup sepatu plastik melindungi dari bahan­vkimia bersifat menghancurkan.
  • Sepatu Insulated melindungi dari goncangan elektris.
  • Sepatu boot karet dengan anti selip pada bagian luar sol menyebabkan daya tarik di dalam kondisi basah dimana terjadi kemungkinan selip. Sepatu keselamatan, sepatu boot karet atau tutup sepatu plastik melindungi dari jenis spesifik pencemaran kimia dan seperti sarung tangan harus dipilih untuk jenis resiko yang tepat.

Perlindungan Pendengaran
Jenis perlindungan telinga meliputi:
  • Busa telinga menyediakan perlindungan dasaruntuk mengunci telinga terhadap suara gaduh.
  • Muffs telinga menyediakan perlindungan ekstra terhadap suara gaduh, dan lebih nyaman dipakai dibandingkan busa telinga.
  • Kapas yang dimasukkan adalah penekan suara bising yang tidak tepat dan tidak boleh digunakan.



Jika masih ada informasi lain yang dibutuhkan tentang alat pelindung diri laboratorium, silahkan kunjungi toko online kami di www.AlatAlatLaboratorium.com, Telp kami di 0852 – 6727 – 7949 atau e-mail kami di sales@AlatAlatLaboratorium.com
  • Artikel ini bermanfaat untuk anda ?
    Bergabung lah dengan 250 orang di mailing list dibawah ini,dan dapatkan artikel lainnya langsung ke e-mail anda.

SEJARAH ANALIS KESEHATAN DI INDONESIA


  1. SEJARAH ANALIS KESEHATAN DI INDONESIA
    Sejarah perkembangan laboratorium kesehatan di dunia dimulai sejak awal diketemukannya mikroba oleh Antony van Leeuwenhoek (1632 – 1723) yang kemudian menjadikannya menjadi salah seorang penemu mikrobiologi. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa penemuan di dunia mikrobiologi lainnya seperti Louis Pasteur (1822 – 1895) penemu teori biogenesis dan penemu protozoa penyebab penyakit serta penemu vaksin, Robert Koch (1843 – 1910) penemu penyakit Anthrax dan terkenal dengan Postulat Koch. Tidak ada buku sejarah yang otentik tentang perkembangan laboratorium di Indonesia, namun menelusuri berbagai catatan dan masukan dari beberapa orang yang terlibat dalam proses terbentuknya laboratorium kesehatan di Indonesia. Perkembangan tersebut adalah sejak dimulainya pemerintah penjajahan Belanda pada abad ke -16, pada tahun 1851 sekolah dokter Jawa didirikan oleh dr. Bosch, kepala pelayanan kesehatan sipil dan militer dan dr. Bleeker di Indonesia. Kemudian sekolah ini terkenal dengan nama STOVIA (School Tot Oplelding Van Indiche Arsten) atau sekolah untuk pendidikan dokter pribumi. Dalam rangka mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia pada saat itu kemudian didirikan Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung pada tahun 1888. Kemudian pada tahun 1938, pusat laboratorium ini berubah menjadi Lembaga Eykman dan selanjutnya disusul didirikan laboratorium lain di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Laboratorium-laboratorium ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar dan sebagainya bahkan untuk bidang kesehatan masyarakat yang lain seperti gizi dan sanitasi.
    Pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa puskesmas adalah merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Salah satu kegiatan pokok puskesmas mencakup antara lain adalah laboratorium.
    Kemudian terjadi perkembangan pelayanan laboratorium kesehatan selain yang diselenggarakan oleh pemerintah khususnya swasta dengan berdirinya Laboratorium Klinik “CITO ” pada tanggal 10 April 1967 oleh Bapak. H. Achmad Djoeahir. Berlokasi di salah satu jalan utama kota Semarang, yaitu Jalan Imam Bonjol No. 206. Kemudian disusul dengan Prodia yang didirikan di Solo pada tahun 1973 sebagai yayasan yang juga melayani pemeriksaan laboratorium. Sampai sekarang perkembangan laboratorium sudah sedemikian pesatnya dan seiring dengan perkembangan teknologi laboratorium kesehatan yang semakin modern maka semakin banyak berdiri laboratorium klinik swasta di Indonesia.
    Adanya laboratorium kesehatan di Indonesia tidak bisa terlepas dari sumber daya kesehatan yang menjalankan kegiatan pelayanan di laboratorium, maka pemerintah kemudian mendirikan institusi pendidikan analis kesehatan. Cikal bakal keberadaan institusi pendidikan analis kesehatan adalah dengan didirikannya pusat pelatihan tenaga kesehatan oleh dr. Y. Sulianti bersamaan dengan didirikan Proyek Bekasi (tepatnya Lemah Abang) sebagai proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia. Selanjutnya berdiri Sekolah Pengatur Analis (SPA) yang didirikan pada tahun 1958 di Medan dan Yogyakarta. Masa pendidikan pada saat itu adalah 2 tahun yang berasal dari lulusan SD. Lulusannya dapat melanjutkan pendidikan kekhususan selama 2 tahun lagi yaitu jurusan kimia dan jurusan bakteri. Termasuk juga dengan berdirinya Sekolah Penjenang Kesehatan bagian F pada tahun 1970an. Tahun 1982 karena adanya kebijakan pemerintah berubah namanya menjadi Sekolah Menengah Analis Kesehatan dan tahun 1998 dikonversi menjadi D-III Akademi Analis Kesehatan.
    Perkembangan institusi pendidikan analis kesehatan mengalami perkembangan yang pesat. Seperti halnya kebijakan pemerintah untuk menggabungkan akademi-akademi kesehatan di institusi negeri menjadi Politeknik Kesehatan dan mengilhami pendirian sekolah-sekolah tinggi kesehatan yang juga menyelenggarakan pendidikan Diploma III dan Diploma IV Analis Kesehatan. Atas kerja keras dan komitmen organisasi profesi analis kesehatan maka sampai saat ini telah ada institusi penyelenggara S1 Analis Kesehatan dengan nama S1 Teknologi Laboratorium Kesehatan yang berada di Makassar


     

    View comments


  2. Di akhir 1800-an dan di awal tahun 1900-an, pendidikan tenaga laboratorium klinik terjadi di laboratorium rumah sakit, dimana kaum perempuan muda (umumnya) diajarkan bagaimana melakukan pemeriksaan laboratorium dibawah pengawasan langsung seorang ahli patologis. Kemudian program pendidikan formal mulai muncul setelah perang dunia kesatu. Beberapa program pendidikan setingkat sekolah tinggi muncul pada tahun 1918 seiring dengan meningkatnya jumlah laboratorium klinik dan jenis pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan.
    Logo American Society for Clinical Pathology
    Beberapa ahli patologis mendirikan American Society for Clinical Pathology (ASCP) pada tahun 1922, dengan maksud untuk memantau dan menstandarisasi program pelatihan untuk teknisi laboratorium. Tidak lama setelah itu, sebuah komite ditugaskan untuk mendefinisikan profesi tersebut dan membuat data registrasi untuk setiap tenaga laboratorium yang telah melaksanakan pelatihan sesuai dengan standar yang dibuat ASCP. Komite tersebut lalu menjadi Badan Registrasi (Board of Registry) di bawah organisasi ASCP pada tahun 1928, dan dua tahun kemudian, sertifikasi untuk pertama kalinya diberikan pada lebih dari 400 orang teknisi laboratorium klinik. 
    Pada awalnya, tenaga ahli laboratorium klinik dibagi menjadi dua yaitu teknisi (technician) dan teknologis /teknologiwan (technologist). Yang disebut dengan teknisi adalah lulusan setara SMA yang mendapatkan 18 bulan pelatihan teori dan praktek di laboratorium. Sedangkan teknologis memiliki gelar dari universitas dengan minimal satu tahun perkuliahan ilmu pengetahuan dasar (basic sciences) dan pelatihan praktik klinis di laboratorium yang ditunjuk. Sampai saat ini, tenaga ahli laboratorium klinik yang melakukan pemeriksaan laboratorium di Amerika Serikat diklasifikasikan menjadi dua, teknisi dengan gelar asscociate's (2 tahun perkuliahan) dan teknologis dengan gelar sarjana (4 tahun perkuliahan).


    Pada tahun 1930an sampai 1940an, Badan Registrasi ASCP melakukan peran-peran penting untuk merumuskan program pelatihan laboratorium. Mereka menyurvei program pelatihan yang sudah berjalan, menggunakan data yang terkumpul untuk mengembangkan kurikulum (teori dan praktek), menyarankan lamanya program pelatihan, dan menentukan standar kualifikasi untuk institusi pendidikannya baik itu yang berbasis rumah sakit atau berbasis universitas. Badan Registrasi meningkatkan kriteria bagi siswa yang ingin mendaftar dan Badan Registrasi ASCP juga mengumumkan daftar sekolah yang "diakui". Semua kinerja ASCP, Badan Registrasi dan organisasi profesi yang baru dibentuk yaitu ASCLT (American Society of Clinical Laboratory Technicians) membantu meningkatkan status ahli laboratorium klinik di tahun 1900an. 
    ASCP secara terus-menerus memantau program pendidikan Amerika Serikat di bidang kedokteran dan laboratorium sampai tahun 1970an. Pada waktu itu, para tenaga ahli laboratorium klinik menginginkan otonomi yang lebih besar sehingga American Society of Medical Technologists (ASMT, organisasi yang sebelumnya adalah ASCLT), membantu mengembangkan kemandirian dan memimpin badan pemantau untuk program pendidikan ahli laboratorium. Lalu ASCP pun melepaskan pengawasannya terhadap program pendidikan ahli laboratorium. Di lain pihak, NAACLS (National Accrediting Agency for Clinical Laboratory) didirikan pada tahun 1973, dan sampai sekarang menjadi badan primer untuk mengakreditasi program pendidikan ahli laboratorium di Amerika Serikat, baik di dalam rumah sakit dan universitas. Untuk sertifikasi tenaga kesehatannya, hanya ada tiga organisasi yang melakukan proses sertifikasi yaitu ASCP, AAB dan AMT. (AAB = American Association of Bioanalysts / AMT = American Medical Technology).
    Sertifikasi tenaga profesional merupakan kegiatan yang berbeda dengan lisensi profesional. Sertifikasi, seperti yang dilakukan ASCP, melibatkan ujian tertulis yang mencakup semua topik terkait khusus untuk praktek. Seseorang harus mencapai tingkat pengetahuan tertentu agar dapat lulus ujian sertifikasi. Setelah lulus, sertifikat yang didapatkan akan diakui di semua negara bagian Amerika Serikat. Lisensi profesional, di sisi lain, adalah kegiatan yang spesifik untuk negara bagian tertentu. Hanya ada 12 negara bagian yang membutuhkan lisensi agar dapat bekerja sebagai tenaga ahli laboratorium. 
    Sampai sekarang, tenaga profesional yang melakukan sebagian besar analisis laboratorium klinik di Amerika Serikat memiliki gelar setara associate's (2 tahun, 60 angka kredit) atau gelar sargana (biasanya 4 tahun, 120 angka kredit). Untuk jabatan yang lebih tinggi dengan tugas supervisi, seperti kepala bagian, supervisor shift, dan manajer, biasanya memiliki pendidikan pasca-sarjana atau sertifikasi tertentu, contohnya, sertifikasi spesialis atau gelar master di bidang laboratorium, sains, bisnis atau manajemen. Untuk jabatan direktur laboratorium harus memiliki gelar Ph.D. atau M.D. dengan sertifikasi spesialis di bidang laboratorium klinik atau patologi.  
    Diambil dari jurnal ilmiah "The Journal of the International Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine" kuartal pertama di tahun 2013." oleh Stacy E. Walz, PhD, MS, MT (ASCP) (Assistant Professor, Department Chair, Clinical Laboratory Science Department, Arkansas State University- Jonesboro). Ditulis ulang oleh Akhmad Haq dengan penyesuaian.

Perkenalkan saya Blooger

Assalamualaikum wr wb

Hai...... izin perkenalkan diri karna kata orang tak kenal maka tak sayang hihi. Nama saya Rita Ayu Tursinawati. Saya adalah salah satu mahasiswa STIKES Jenderal Achmad Yani Cimahi. Saya mengambil prodi D3 Analis Kesehatan. Saya lahir di Magetan pada tanggal 07 Juli 1998. Saya berasal dari Kota Hujan. Saya mempunyai hobi mendengarkan lagu dan menyanyi ya walaupun suara nya agak kurang mendukung hihi. Saya memiliki banyak cita cita, selain ingin membanggakan orang tua saya pun ingin menjadi seorang Analis Kesehatan yang profesional. Jujur ini adalah penggalaman pertama saya untuk mebuat blogger dan saya pun bingung harus memposting blooger saya dengan hal apa saja. But selamat datang blooger. I hope I can be a good friend of you and thank you for your spare time that has popped into my blog. Salam Kenal dan Salam Analis gais