Selasa, 27 September 2016

SEJARAH ANALIS KESEHATAN DI INDONESIA


  1. SEJARAH ANALIS KESEHATAN DI INDONESIA
    Sejarah perkembangan laboratorium kesehatan di dunia dimulai sejak awal diketemukannya mikroba oleh Antony van Leeuwenhoek (1632 – 1723) yang kemudian menjadikannya menjadi salah seorang penemu mikrobiologi. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa penemuan di dunia mikrobiologi lainnya seperti Louis Pasteur (1822 – 1895) penemu teori biogenesis dan penemu protozoa penyebab penyakit serta penemu vaksin, Robert Koch (1843 – 1910) penemu penyakit Anthrax dan terkenal dengan Postulat Koch. Tidak ada buku sejarah yang otentik tentang perkembangan laboratorium di Indonesia, namun menelusuri berbagai catatan dan masukan dari beberapa orang yang terlibat dalam proses terbentuknya laboratorium kesehatan di Indonesia. Perkembangan tersebut adalah sejak dimulainya pemerintah penjajahan Belanda pada abad ke -16, pada tahun 1851 sekolah dokter Jawa didirikan oleh dr. Bosch, kepala pelayanan kesehatan sipil dan militer dan dr. Bleeker di Indonesia. Kemudian sekolah ini terkenal dengan nama STOVIA (School Tot Oplelding Van Indiche Arsten) atau sekolah untuk pendidikan dokter pribumi. Dalam rangka mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia pada saat itu kemudian didirikan Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung pada tahun 1888. Kemudian pada tahun 1938, pusat laboratorium ini berubah menjadi Lembaga Eykman dan selanjutnya disusul didirikan laboratorium lain di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Laboratorium-laboratorium ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar dan sebagainya bahkan untuk bidang kesehatan masyarakat yang lain seperti gizi dan sanitasi.
    Pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa puskesmas adalah merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Salah satu kegiatan pokok puskesmas mencakup antara lain adalah laboratorium.
    Kemudian terjadi perkembangan pelayanan laboratorium kesehatan selain yang diselenggarakan oleh pemerintah khususnya swasta dengan berdirinya Laboratorium Klinik “CITO ” pada tanggal 10 April 1967 oleh Bapak. H. Achmad Djoeahir. Berlokasi di salah satu jalan utama kota Semarang, yaitu Jalan Imam Bonjol No. 206. Kemudian disusul dengan Prodia yang didirikan di Solo pada tahun 1973 sebagai yayasan yang juga melayani pemeriksaan laboratorium. Sampai sekarang perkembangan laboratorium sudah sedemikian pesatnya dan seiring dengan perkembangan teknologi laboratorium kesehatan yang semakin modern maka semakin banyak berdiri laboratorium klinik swasta di Indonesia.
    Adanya laboratorium kesehatan di Indonesia tidak bisa terlepas dari sumber daya kesehatan yang menjalankan kegiatan pelayanan di laboratorium, maka pemerintah kemudian mendirikan institusi pendidikan analis kesehatan. Cikal bakal keberadaan institusi pendidikan analis kesehatan adalah dengan didirikannya pusat pelatihan tenaga kesehatan oleh dr. Y. Sulianti bersamaan dengan didirikan Proyek Bekasi (tepatnya Lemah Abang) sebagai proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia. Selanjutnya berdiri Sekolah Pengatur Analis (SPA) yang didirikan pada tahun 1958 di Medan dan Yogyakarta. Masa pendidikan pada saat itu adalah 2 tahun yang berasal dari lulusan SD. Lulusannya dapat melanjutkan pendidikan kekhususan selama 2 tahun lagi yaitu jurusan kimia dan jurusan bakteri. Termasuk juga dengan berdirinya Sekolah Penjenang Kesehatan bagian F pada tahun 1970an. Tahun 1982 karena adanya kebijakan pemerintah berubah namanya menjadi Sekolah Menengah Analis Kesehatan dan tahun 1998 dikonversi menjadi D-III Akademi Analis Kesehatan.
    Perkembangan institusi pendidikan analis kesehatan mengalami perkembangan yang pesat. Seperti halnya kebijakan pemerintah untuk menggabungkan akademi-akademi kesehatan di institusi negeri menjadi Politeknik Kesehatan dan mengilhami pendirian sekolah-sekolah tinggi kesehatan yang juga menyelenggarakan pendidikan Diploma III dan Diploma IV Analis Kesehatan. Atas kerja keras dan komitmen organisasi profesi analis kesehatan maka sampai saat ini telah ada institusi penyelenggara S1 Analis Kesehatan dengan nama S1 Teknologi Laboratorium Kesehatan yang berada di Makassar


     

    View comments


  2. Di akhir 1800-an dan di awal tahun 1900-an, pendidikan tenaga laboratorium klinik terjadi di laboratorium rumah sakit, dimana kaum perempuan muda (umumnya) diajarkan bagaimana melakukan pemeriksaan laboratorium dibawah pengawasan langsung seorang ahli patologis. Kemudian program pendidikan formal mulai muncul setelah perang dunia kesatu. Beberapa program pendidikan setingkat sekolah tinggi muncul pada tahun 1918 seiring dengan meningkatnya jumlah laboratorium klinik dan jenis pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan.
    Logo American Society for Clinical Pathology
    Beberapa ahli patologis mendirikan American Society for Clinical Pathology (ASCP) pada tahun 1922, dengan maksud untuk memantau dan menstandarisasi program pelatihan untuk teknisi laboratorium. Tidak lama setelah itu, sebuah komite ditugaskan untuk mendefinisikan profesi tersebut dan membuat data registrasi untuk setiap tenaga laboratorium yang telah melaksanakan pelatihan sesuai dengan standar yang dibuat ASCP. Komite tersebut lalu menjadi Badan Registrasi (Board of Registry) di bawah organisasi ASCP pada tahun 1928, dan dua tahun kemudian, sertifikasi untuk pertama kalinya diberikan pada lebih dari 400 orang teknisi laboratorium klinik. 
    Pada awalnya, tenaga ahli laboratorium klinik dibagi menjadi dua yaitu teknisi (technician) dan teknologis /teknologiwan (technologist). Yang disebut dengan teknisi adalah lulusan setara SMA yang mendapatkan 18 bulan pelatihan teori dan praktek di laboratorium. Sedangkan teknologis memiliki gelar dari universitas dengan minimal satu tahun perkuliahan ilmu pengetahuan dasar (basic sciences) dan pelatihan praktik klinis di laboratorium yang ditunjuk. Sampai saat ini, tenaga ahli laboratorium klinik yang melakukan pemeriksaan laboratorium di Amerika Serikat diklasifikasikan menjadi dua, teknisi dengan gelar asscociate's (2 tahun perkuliahan) dan teknologis dengan gelar sarjana (4 tahun perkuliahan).


    Pada tahun 1930an sampai 1940an, Badan Registrasi ASCP melakukan peran-peran penting untuk merumuskan program pelatihan laboratorium. Mereka menyurvei program pelatihan yang sudah berjalan, menggunakan data yang terkumpul untuk mengembangkan kurikulum (teori dan praktek), menyarankan lamanya program pelatihan, dan menentukan standar kualifikasi untuk institusi pendidikannya baik itu yang berbasis rumah sakit atau berbasis universitas. Badan Registrasi meningkatkan kriteria bagi siswa yang ingin mendaftar dan Badan Registrasi ASCP juga mengumumkan daftar sekolah yang "diakui". Semua kinerja ASCP, Badan Registrasi dan organisasi profesi yang baru dibentuk yaitu ASCLT (American Society of Clinical Laboratory Technicians) membantu meningkatkan status ahli laboratorium klinik di tahun 1900an. 
    ASCP secara terus-menerus memantau program pendidikan Amerika Serikat di bidang kedokteran dan laboratorium sampai tahun 1970an. Pada waktu itu, para tenaga ahli laboratorium klinik menginginkan otonomi yang lebih besar sehingga American Society of Medical Technologists (ASMT, organisasi yang sebelumnya adalah ASCLT), membantu mengembangkan kemandirian dan memimpin badan pemantau untuk program pendidikan ahli laboratorium. Lalu ASCP pun melepaskan pengawasannya terhadap program pendidikan ahli laboratorium. Di lain pihak, NAACLS (National Accrediting Agency for Clinical Laboratory) didirikan pada tahun 1973, dan sampai sekarang menjadi badan primer untuk mengakreditasi program pendidikan ahli laboratorium di Amerika Serikat, baik di dalam rumah sakit dan universitas. Untuk sertifikasi tenaga kesehatannya, hanya ada tiga organisasi yang melakukan proses sertifikasi yaitu ASCP, AAB dan AMT. (AAB = American Association of Bioanalysts / AMT = American Medical Technology).
    Sertifikasi tenaga profesional merupakan kegiatan yang berbeda dengan lisensi profesional. Sertifikasi, seperti yang dilakukan ASCP, melibatkan ujian tertulis yang mencakup semua topik terkait khusus untuk praktek. Seseorang harus mencapai tingkat pengetahuan tertentu agar dapat lulus ujian sertifikasi. Setelah lulus, sertifikat yang didapatkan akan diakui di semua negara bagian Amerika Serikat. Lisensi profesional, di sisi lain, adalah kegiatan yang spesifik untuk negara bagian tertentu. Hanya ada 12 negara bagian yang membutuhkan lisensi agar dapat bekerja sebagai tenaga ahli laboratorium. 
    Sampai sekarang, tenaga profesional yang melakukan sebagian besar analisis laboratorium klinik di Amerika Serikat memiliki gelar setara associate's (2 tahun, 60 angka kredit) atau gelar sargana (biasanya 4 tahun, 120 angka kredit). Untuk jabatan yang lebih tinggi dengan tugas supervisi, seperti kepala bagian, supervisor shift, dan manajer, biasanya memiliki pendidikan pasca-sarjana atau sertifikasi tertentu, contohnya, sertifikasi spesialis atau gelar master di bidang laboratorium, sains, bisnis atau manajemen. Untuk jabatan direktur laboratorium harus memiliki gelar Ph.D. atau M.D. dengan sertifikasi spesialis di bidang laboratorium klinik atau patologi.  
    Diambil dari jurnal ilmiah "The Journal of the International Federation of Clinical Chemistry and Laboratory Medicine" kuartal pertama di tahun 2013." oleh Stacy E. Walz, PhD, MS, MT (ASCP) (Assistant Professor, Department Chair, Clinical Laboratory Science Department, Arkansas State University- Jonesboro). Ditulis ulang oleh Akhmad Haq dengan penyesuaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar